Tuesday, 14 October 2008

Kekuatan Harapan

Seberapa besar harapan mempengaruhi hidup kita? Jawabannya, sangat besar!
Bagaimana
tidak, dengan harapan kita jadi punya semangat untuk maju. Dengan
harapan kita jadi punya kesempatan untuk berbuat lebih.

Ini
adalah pengalaman saya pribadi tentang bagaimana sebuah harapan
memberikan saya kesempatan kedua. Karena harapan adalah sebuah do'a.

Februari
tahun lalu, saya sudah hampir putus asa mencari pinjaman uang untuk
registrasi semester baru. Pada saat itu, kondisi keuangan keluarga
sedang dalam kondisi yang tidak baik. Beasiswa yang saya andalkan untuk
pembayaran registrasi setiap semester pun, tidak lagi dapat saya
andalkan dikarenakan datangnya memang sering tidak tepat waktu. Saya
sudah berusaha meminta penundaan pembayaran ke rektorat bagian
kemahasiswaan, tetapi lagi-lagi saya harus kecewa karena formulirnya
sudah habis. Dan parahnya hari itu adalah hari minus satu batas akhir
registrasi.

Dalam kondisi seperti itu, saya berharap akan ada keajaiban. Kalau
memang saya harus berhenti kuliah saat ini, saya tidak akan terlalu
kecewa karena saya sudah sampai sejauh ini. Namun, dalam hati kecil
saya berharap bahwa hal ini tidak perlu terjadi. Bahwa saya masih dapat
melanjutkan menggapai impian saya. Saya hanya berharap dan berdo'a.

Di
saat saya sedang berpikir dan berharap, tiba-tiba saja telepon kos
berdering pada tanggal 14 Februari 2007 pukul 08.45 WIB. Seorang ketua
departemen Badan Eksekutif Mahasiswa yang dulu pernah menjadi kakak kos
saya, memberi tahu bahwa saya harus hadir di Rektorat bagian
kemahasiswaan untuk mengambil beasiswa registrasi pukul 09.00 WIB. Saya
kaget, campur bahagia, campur terharu dan sempat meneteskan air mata
saking gembiranya. Saya hanya punya waktu 15 menit untuk bersia-siap
dan menuju kampus. Saat itu, saya merasakan aliran semangat dan
motivasi yang besar.

Selepas registrasi, saya baru sadar bahwa
saya tidak pernah mengajukan beasiswa tersebut. Lalu bagaimana mungkin
nama saya bisa tercantum dalam daftar penerima beasiswa?
Setelah
lama berpikir, saya teringat beberapa hari yang lalu seorang teman
bertanya, apakah saya sudah registrasi. Teman saya itu terus saja
mengulang pertanyaan yang sama setiap ada kesempatan. Ternyata, teman
saya itulah yang menceritakan masalah saya pada presiden BEM saat itu
untuk segera ditindak lanjuti. Begitulah yang terjadi. Dengan kekuatan
harapan, saya mendapatkan keajaiban dari sebuah persahabatan.

Sejak
saat itu, saya tahu kalau saya berharap banyak, maka saya akan mendapat
lebih. Tidak menyerah pada situasi hidup yang sedang dijalani adalah
kuncinya. Karena hanya orang lemah saja yang berputus asa. Karena
selalu ada kesempatan bagi yang mau berharap. Itulah kekuatan harapan
yang sesungguhnya.

Thanks buat sahabatku, Wina. May Allah always bless you, sist.

more articles...
http://www.mudlfiroh.blogspot. com/

No comments:

 

Blogger news

    follow me on Twitter

    Blogroll

    About

    Bookmark and Share