Saturday, 25 October 2008

MOTIVASI BEKERJA

Assalamualaikum Wr wb

Saat memulai kembali beraktifitas, jujur saya agak kurang semangat.
Apalagi tiba-tiba kerjaan begitu menumpuk, bukan karena ditumpuk
melainkan karena sudah momen-nya siklus kerja lagi tinggi.

Sebenernya saya bingung, gimana ya menyemangati diri? Di tengah
demotivasi tiba-tiba saya teringati seorang kakak pembimbing yang
cukup saya kagumi, darinya saya pernah mendapatkan beberapa tips,
diantaranya :

Luruskan niat untuk ibadah
Ikhlas karena Allah ta'ala.
Buat orientasi setinggi-tingginya
Jalani dan nikmati setiap ritme yang ada
Yakinkan yang kita kerjakan saat ini bukan Cuma untuk kita tapi juga
untuk orang banyak.
Yakinlah amal ibadah yang ikhlas karena Allah akan menjadi penambah
rekening pahala untuk dapat membeli tiket ke surga kelak.


Beliau mengilustrasikan tips tersebut melalui sebuah kisah (mohon
maaf kalo ga sama persis, karena ingatan saya sangat terbatas, lebih
kurangnya saya modifikasi, terutama pada nama-nama yang ada adalah
fiktif belaka namun Insya Allah maksud dan kesimpulannya sama) :

Ada seorang mahasiswa sedang riset tentang motivasi kerja manusia,
kali ini dia riset pada tiga kuli bangunan suatu bangunan sekolah
yang belum jadi.

Dia mengamati dalam sepekan bagaimana tiga orang kuli ini bekerja,
yang pertama bernama Yanto anak muda berusia 23 tahun, yang kedua
Parman berusia 27 tahun dan yang ketiga Abdul 45 tahun. Si mahasiswa
sendiri bernama Hadi. Hadi heran, kenapa pak Abdul terlihat jauh
lebih semangat dalam bekerja, padahal usianya lebih tua dan badannya
lebih kurus bila dibandiungkan kedua kuli yang lain. Si Yanto selalu
terlihat lesu dan malas sekali, lebih sering tidur. Si Parman
terlalu sering istirahat dan merokok sambil melamun.

Karena penasaran kenapa kinerja ketiga orang ini begitu
berbeda,apakah gerangan penyebabnya? maka pada pekan ke-2 terjadilah
percakapan sbb:

Hadi : "Assalamu'alaikum mas Yanto, maaf menggangu istirahatnya
sebentar."

Yanto : " oh ya, ga papa mas. Ada apa?"

HAdi : "Kalo boleh tau, apa yang menjadi motivasi mas yanto bekerja
menjadi kuli"

Yanto : " Mas HAdi ngeledek ya… ? mana ada sih yang punya motivasi
untuk jadi kuli?

Saya sebenernya juga ga mau mas. Tapi sejak lulus SMA saya ngelamar
kemana-

mana ga' dapet. Mau lanjut kuliah kaya' mas Hadi gini, ga punya
uang. Ya…

daripada Cuma jadi sampah masyarahat, saya terimalah kerjaan kasar
nguli ini."

Hadi : (sambil manggut-manggut dan berfikir, pantes aja terlihat
males-malesan, sudah

ga ikhlas ga punya orientasi ke depan lagi..)

"oh gitu ya mas Yanto. Kalau pak Parman, gimana Pak?"

Parman : "Kalo saya… sudah kewajiban, kalo ga kerja gimana anak –
istri saya bisa

makan? Belum lagi biaya sekolah, waduh mas beban hidup kian hari
kian

menumpuk. Ya.. mau ga' mau saya kerja apa aja, tapi karena ijazah
saya ga punya

Ya Kuli inilah tempat saya menopang hidup untuk menanggung semua
beban "

Hadi : (manggut-manggut lagi, yang ini punya orientasi untuk
keluarga namun masih

kurang ikhlas, dia terlalu focus pada beban keluarga yang begitu
menumpuk, sehingga sedikitpun tidak bias mengerjakan pekerjaan
dengan nyaman)

"Nah… Kalo Pak Abdul gimana pak?

Abdul : "Saya mas… saya senang menggeluti apapun pekerjaan saya,
pertama yang

penting halal, kedua berkah. Bukan hanya untuk saya tapi juga org
banyak mas."

Hadi : (kali ini tidaklangsung manggut-manggut, melainkan
mengkerutkan dahi)

" Berkah? Maksudnya apa ya pak? Maaf saya belum
mengerti"

Abdul : (sambil tersenyum setelah menikmati air minum yang ia
teguk dengan

Nikmatnya) "Begini mas.. berkah untuk saya itu adalah buah dari rasa
syukur di

usia ini saya masih kuat bekerja, sehingga saya mendapatkan hasil
yang cukup untuk kebutuhan saya dan keluarga sehari-hari. "

Hadi : "Kalau berkah uuntuk orang banyaknya apa Pak?" masih
tampak kebingungan

di wajahnya.

Abdul : " Berkah untuk orang banyak maksudnya. Pekerjaan yang saat
ini saya kerjakan

adalah membangun peradaban Bangsa loh mas"

Hadi : "Duh pak, ko' saya makin bingung ya…? Apa
hubungannya 'kuli' dan

peradaban Bangsa?"

Abdul : sambil tersenyum lagi menjelaskan, " Lah mas Hadi baca di
papan sana, di sana

jelas ditulis bahwa yang saya bangun saat ini adalah sekolah.
Sekolah adalah

tempat mendidik generasi penerus Bangsa ini loh mas. Nah generasi
penerus

inilah tempat bergantungnya peradaban Bangsa kita kedepan nanti.
Kalau saya

sembarangan dalam bekerja, bias celaka mereka nanti. Kalau mereka
celaka,

bagaimana nasib peradaban Bangsa kita ke depan nantinya? Itu yang
membuat

saya sangat semangat. Walaupun saya hanya kuli,pekerjaan saya ini
juga punya

peran dalam MEMBANGUN PERADABAN BANGSA "

Hadi : (kali ini ia baru bisa manggut-manggut bak burung pelatuk.
Dia baru mengerti

Kenapa walau usia telah mulai tua dan badan kurus
kering, Pak Abdul terlihat

sangat semangat dalam bekerja. Sudah ikhlas, orientasi ke depannya
sangat jauh.

Sehingga usia dan tenaga sedikit pun tidak menjadi hambatan, bahkan
ia

Sedikitpun tak memikirkan beban hidupnya saat bekerja.)

" Terimakasih Bapak-bapak semua atas segala bantuannya, insya Allah
sangat

Mambantu saya dalam menyelesaikan tugas. Juga menambah wawasan saya

Tentunya. "

Alhamdulillah setelah mengulang kisah tadi yang telah cukup lama
saya simpan dalam memori ingatan saya, kini saya dapat mengembalikan
semangat saya dalam bekerja.

Jazakumullah khairan katsiran untuk Bang Satria Hadi Lubis, semoga
pahala selalu mengalir untuk Abang atas segala nasihatnya yang
sangat bermanfaat ini, semoga Abang sekeluarga mendapat keberkahan
dan perlindungan dari Allah SWT, amin ya Robbal alamin.

Wallahu a'lam bi shawab, Semoga bermanfaat juga untuk yang
membaca,amin

Wabillahi taufiq wal hidayah

Wassalamu'alaikum Wr. Wb

No comments:

 

Blogger news

    follow me on Twitter

    Blogroll

    About

    Bookmark and Share