Sunday, 14 December 2008

Kelumpuhan Karir (Rutinitas)

Asalamu'allaikum, wr. wb.

Kelumpuhan Karir
  • Kita merasa jenuh dengan pekerjaan.
  • Kita bermalas-malasan pergi ke tempat kerja.
  • Selalu saja ada alasan untuk ijin atau mengambil cuti.
  • Kita tidak memiliki antusias dalam bekerja.
  • Kinerja kita tidak meningkat tapi menurun.
  • Grafik kita statis dan bukan dinamis.
  • Kreatifitas kita mati dan miskin inovasi.
Bisa jadi semua tanda-tanda di atas menunjukkan bahwa kita sedang mengalami gejala Career Paralyse ( kelumpuhan karir). Kalau tidak segera diatasi, bisa-bisa karir kita akan mandeg atau bahkan tamat!
Bagaimana cara mengatasinya?

1. Pertama, tentukan target baru.
Banyak orang mengalami kelumpuhan karir karena ia sudah kehilangan target. Bisa karena target yang ingin ia capai sangat kabur tapi bisa juga karena targetnya sudah terpenuhi .
Jika target sudah sangat kabur, ada baiknya kita menata ulang lagi target macam apa yang ingin kita capai. Dalam menetapkan targetnya, hendaknya target tersebut benar-benar jelas dan masuk akal. Kalau kelumpuhan karir tersebut disebabkan target yang sudah dipenuhi, kita harus membuat target baru yang lebih besar dan lebih menantang untuk peningkatan karir kita.

2. Kedua, temukan motivasi baru.

Kelumpuhan karir juga disebabkan hilangnya motivasi. Kita perlu mendapatkan kembali hal-hal yang bisa memotivasi kita. Membahagiakan keluarga, menciptakan masa depan yang lebih baik, dan memaksimalkan potensi diri bisa menjadi sumber motivasi bagi kita.

3. ketiga, tidak berpuas diri.
Jika kita sudah berpuas diri dengan apa yang kita kerjakan, puas dengan posisi kita dalam pekerjaan, dan puas dengan hasil kerja kita, bisa-bisa kita akan mengalami kelumpuhan karir, sebab tanda awal dari kelumpuhan karir adalah berpuas diri.

Memang kita harus selalu bersyukur dalam segala hal. Namun hal tersebut bukan berarti membuat kita berhenti dan berpuas diri. Masih ada kesuksesan besar yang perlu kita raih. Masih ada jenjang karir yang lebih tinggi yang perlu kita capai. Masih ada potensi dalam diri yang perlu kita tingkatkan.

Kelumpuhan karir hanya akan membuat potensi diri kita mati dan tidak berkemban


Sumber dari Milist

Uang Bisa buat kaya (2)

Asalamu'allaikum. wr. wb.

Uang Bisa Buat Kaya?
Bagaimana membuat hidup
menjadi kaya? Barangkali inilah topik yang paling dibutuhkan dan paling sering
dicari oleh kebanyakan orang. Di internet saja ada 37.000 situs mengenai cara
menjadi kaya. Seminar-seminar yang memberikan resep kaya, apalagi dengan cara
cepat, selalu sold out atau laris manis. Buku-buku bisnis yang menawarkan jurus
kaya juga sangat diminati. Pada intinya, semuanya berujung pada uang. Uanglah
satu-satunya hal yang diyakini bisa membuat hidup ini kaya.
Faktanya, uang tidak pernah membuat manusia kaya. Mereka yang sudah
kaya masih saja tetap merasa kurang dan mengejar uang yang lebih banyak lagi.
Sebaliknya uang justru membuat kita selalu merasa miskin, merasa kurang dan
tamak, bahkan tidak peduli sebanyak apapun uang yang telah kita miliki.
Berjuta-juta orang masih tetap menghabiskan kehidupannya untuk mengejar
apa yang tidak akan pernah mereka miliki. Ironisnya, mereka mengabaikan apa
yang sebetulnya benar-benar mereka butuhkan. Banyak orang menjadi salah
prioritas pada saat ingin memperkaya hidup mereka dengan uang. Bukannya hidup
tambah kaya, tapi justru kita akan terjebak dengan tuntutan keinginan hidup
yang tidak ada habisnya.
100 tahun dari sekarang ini, orang-orang tidak akan mengenang betapa
kayanya kita, mobil mewah apa yang kita kendarai, luxury house macam apa yang
kita tinggali, bahkan berapa banyak rekening kita di bank. Mengapa? Karena pada
akhirnya, hal yang paling berarti di dalam hidup ini sebenarnya bukanlah hal
yang bersifat kebendaan. Itu sebabnya saya mengingatkan Anda untuk tidak keliru
prioritas dalam hidup. Uang dan materi tidak akan pernah bisa memperkaya hidup
kita, justru kalau tidak hati-hati hidup kita malah dipermiskin olehnya.
Uang sebanyak apapun belum pernah bisa membuat orang menjadi kaya.
Wasalam,

Uang Bisa buat kaya (1)

Uang tidak akan membuat orang menjadi
kaya. Saat kita memiliki segung emas,
kita akan masih merasa kurang, kita
masih menginginkan gunung emas yang
lain.

Namun, uang bisa berperan penting dalam
perjuangan dan dakwah. Seperti yang
dilakukan oleh Abdurahman bin 'Auf
untuk persenjataan saat perang.

Saat ini, uang bisa untuk membangun
masjid, memberantas kemiskinan, dan
berbagai kegiatan demi kemashlahatan
umat.

Cukuplah uang mampir di tangan, bukan
di hati.

Kuncinya adalah Sabar…

Saat ujian menelan perasaan
Saat tangisan menjadi teman,
Saat butiran air mata menganak sungai
Satu kata yang harus selalu kita ingat…. SABAR.

Ketika fitnah menerjang
Ketika prahara menantang
Ketika pijakan kaki mulai goyang
Satu kata yang harus selalu terpatri dihati,,, SABAR

Sabar itu tiada batasannya, tahap demi tahap kesabaran akan
tetap kita lewati
Sabar adalah ciri orang yang rindu akan surga, kesabaran
adalah kunci kemenangan dalan keridhoan. Kesabaran adalah kekuatan.

Setiap manusia dilahirkan dengan
beban permasalan yang berbeda-beda dan semuanya dituntut untuk selalu bersabar,
karena Allah tidak akan pernah membebani hambanya melebihi kekuatan hambaNya.
Namun dikala dihimpit rasa yang begitu mengundahkan hati maka mengadulah dengan
Zat yang maha penyabar ,, menangislah dalam keheningan panjang dan merasakan
dekapan kasih Nya , dalam sujud panjang. Biarkan tiap jengkal sajadah menjadi
saksi tangisan buah kesabaran itu.. Biarkan sang kekasih menjadi saksi ..
bukankah orang sabar itu kekasih Allah.

Indahnya kesabaran akan
mendekatkan kita kepada Nya… karena apa yang luput darimu tidak akan menimpamu
,apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Kemenangan seiring dengan
kesabaran, jalan keluar seiring dengan cobaan dan kemudahan seiring dengan
kesulitan..

Dan….. Akan kah kita telah
menjadi orang yang SABAR ????????

Wallahua’lam …

Motivasi Tukang Bakso Jalanan

Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan
untuk ngurus tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh
yang sedang belajar menggambar peta, juga mewarnai. Hujan rintik – rintik selalu
menyertai di setiap sore di musim hujan ini.

Di kala tangan sedikit berlumuran tanah kotor,...terdengar suara tek...tekk..
.tek... suara tukang bakso dorong lewat. Sambil menyeka keringat..., ku
hentikan tukang bakso itu dan memesan beberapa mangkok bakso setelah menanyakan
anak - anak, siapa yang mau bakso ?

"Mauuuuuuuuu. ...", secara serempak dan kompak anak – anak asuhku menjawab.

Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya. .. Ada satu hal yang menggelitik
fikiranku selama ini ketika saya membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang
yang diterimanya. Yang satu disimpan dilaci, yang satu ke dompet, yang lainnya
ke kaleng bekas kue semacam kencleng. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku
selama ini.

"Mang kalo boleh tahu, kenapa uang - uang itu Emang pisahkan ? Barangkali ada
tujuan ?" "Iya pak, Emang sudah memisahkan uang ini selama jadi tukang
bakso yang sudah berlangsung hampir 17 tahun. Tujuannya sederhana saja, Emang
hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak Emang, mana yang menjadi hak orang
lain / tempat ibadah, dan mana yang menjadi hak cita - cita penyempurnaan iman
".

"Maksudnya.. ..?", saya melanjutkan bertanya.

" Iya Pak , kan agama dan Tuhan menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan
sesama. Emang membagi 3, dengan pembagian sebagai berikut :

1. Uang yang masuk ke dompet,
artinya untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari Emang dan keluarga.

2. Uang yang masuk ke laci, artinya untuk
infaq/sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama
17 tahun menjadi tukang bakso, Emang selalu ikut qurban seekor kambing,
meskipun kambingnya yang ukuran sedang saja.

3. Uang yang masuk ke kencleng, karena
emang ingin menyempurnakan agama yang Emang pegang yaitu Islam. Islam mewajibkan
kepada umatnya yang mampu, untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji
ini tentu butuh biaya yang besar. Maka Emang berdiskusi dengan istri dan istri
menyetujui bahwa di setiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini, Emang
harus menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji. Dan insya Allah selama
17 tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi Emang dan istri akan melaksanakan
ibadah haji.

Hatiku sangat...... .....sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah
jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib
sedikit lebih baik dari si emang tukang bakso tersebut, belum tentu memiliki
fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu. Dan seringkali berlindung di
balik tidak mampu atau belum ada rejeki.

Terus saya melanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut : "Iya memang bagus...,tapi
kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang mampu, termasuk memiliki
kemampuan dalam biaya....".

Ia menjawab, " Itulah sebabnya Pak. Emang justru malu kalau bicara soal mampu
atau tidak mampu ini. Karena definisi mampu bukan hak pak RT atau pak RW, bukan
hak pak Camat ataupun MUI. Definisi "mampu" adalah sebuah definisi
dimana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri. Kalau kita
mendefinisikan diri sendiri sebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya
kita akan menjadi manusia tidak mampu. Sebaliknya kalau kita mendefinisikan
diri sendiri, "mampu",
maka Insya Allah dengan segala kekuasaan dan kewenangannya Allah akan memberi kemampuan
pada kita".


"Masya Allah..., sebuah jawaban elegan dari seorang tukang bakso".
 

Blogger news

    follow me on Twitter

    Blogroll

    About

    Bookmark and Share