Sunday, 14 December 2008

Motivasi Tukang Bakso Jalanan

Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan
untuk ngurus tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh
yang sedang belajar menggambar peta, juga mewarnai. Hujan rintik – rintik selalu
menyertai di setiap sore di musim hujan ini.

Di kala tangan sedikit berlumuran tanah kotor,...terdengar suara tek...tekk..
.tek... suara tukang bakso dorong lewat. Sambil menyeka keringat..., ku
hentikan tukang bakso itu dan memesan beberapa mangkok bakso setelah menanyakan
anak - anak, siapa yang mau bakso ?

"Mauuuuuuuuu. ...", secara serempak dan kompak anak – anak asuhku menjawab.

Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya. .. Ada satu hal yang menggelitik
fikiranku selama ini ketika saya membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang
yang diterimanya. Yang satu disimpan dilaci, yang satu ke dompet, yang lainnya
ke kaleng bekas kue semacam kencleng. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku
selama ini.

"Mang kalo boleh tahu, kenapa uang - uang itu Emang pisahkan ? Barangkali ada
tujuan ?" "Iya pak, Emang sudah memisahkan uang ini selama jadi tukang
bakso yang sudah berlangsung hampir 17 tahun. Tujuannya sederhana saja, Emang
hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak Emang, mana yang menjadi hak orang
lain / tempat ibadah, dan mana yang menjadi hak cita - cita penyempurnaan iman
".

"Maksudnya.. ..?", saya melanjutkan bertanya.

" Iya Pak , kan agama dan Tuhan menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan
sesama. Emang membagi 3, dengan pembagian sebagai berikut :

1. Uang yang masuk ke dompet,
artinya untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari Emang dan keluarga.

2. Uang yang masuk ke laci, artinya untuk
infaq/sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama
17 tahun menjadi tukang bakso, Emang selalu ikut qurban seekor kambing,
meskipun kambingnya yang ukuran sedang saja.

3. Uang yang masuk ke kencleng, karena
emang ingin menyempurnakan agama yang Emang pegang yaitu Islam. Islam mewajibkan
kepada umatnya yang mampu, untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji
ini tentu butuh biaya yang besar. Maka Emang berdiskusi dengan istri dan istri
menyetujui bahwa di setiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini, Emang
harus menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji. Dan insya Allah selama
17 tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi Emang dan istri akan melaksanakan
ibadah haji.

Hatiku sangat...... .....sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah
jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib
sedikit lebih baik dari si emang tukang bakso tersebut, belum tentu memiliki
fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu. Dan seringkali berlindung di
balik tidak mampu atau belum ada rejeki.

Terus saya melanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut : "Iya memang bagus...,tapi
kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang mampu, termasuk memiliki
kemampuan dalam biaya....".

Ia menjawab, " Itulah sebabnya Pak. Emang justru malu kalau bicara soal mampu
atau tidak mampu ini. Karena definisi mampu bukan hak pak RT atau pak RW, bukan
hak pak Camat ataupun MUI. Definisi "mampu" adalah sebuah definisi
dimana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri. Kalau kita
mendefinisikan diri sendiri sebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya
kita akan menjadi manusia tidak mampu. Sebaliknya kalau kita mendefinisikan
diri sendiri, "mampu",
maka Insya Allah dengan segala kekuasaan dan kewenangannya Allah akan memberi kemampuan
pada kita".


"Masya Allah..., sebuah jawaban elegan dari seorang tukang bakso".

No comments:

 

Blogger news

    follow me on Twitter

    Blogroll

    About

    Bookmark and Share