Thursday, 17 June 2010

10 Rahasia Sukses Orang Jepang


1. KERJA KERAS


Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras.
Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat
tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911
jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan


Perancis (1680 jam/tahun). Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan
sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan
47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang
boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh
5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak
memalukan” di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk
“yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan.

2. MALU


Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri
(bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era
samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran. Masuk ke dunia
modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi
para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau
merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah
anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau
tidak naik kelas. Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih
jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan
memotong jalur di tengah jalan. Mereka malu terhadap lingkungannya
apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi
kesepakatan umum.


3. HIDUP HEMAT


Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti
konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di
masa awal mulai kehidupan di Jepang, saya sempat terheran-heran dengan
banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam
19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa
bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada
waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa
Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00.

4. LOYALITAS


Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata
dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat
jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya
bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin
implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima
fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai
dengan bidang garapan (core business) perusahaan.

5. INOVASI


Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam
meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang
diminati oleh masyarakat. Menarik membaca kisah Akio Morita yang
mengembangkan Sony Walkman yang melegenda itu. Cassete Tape tidak
ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip
Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan membundling model
portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun adalah
Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai tahun 1995,
tercatat lebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi
mencapai 150 juta produk. Teknik perakitan kendaraan roda empat juga
bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi
ternyata Jepang dengan inovasinya bisa mengembangkan industri perakitan
kendaraan yang lebih cepat dan murah.

6. PANTANG MENYERAH


Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan
pantang menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang menutup
semua akses ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi.
Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat
beradaptasi dan menjadi fast-learner. Kemiskinan sumber


daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi
pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85% sumber
energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia. Kabarnya
kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30% wilayah
Jepang akan gelap gulita Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai
dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, disusul dengan kalah perangnya
Jepang, dan ditambahi dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo. Ternyata
Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah
berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat
(shinkansen) . Mungkin cukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke
yang usahanya hancur dan hampir tersingkir dari bisnis peralatan
elektronik di tahun 1945 masih mampu merangkak, mulai dari nol untuk
membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di era kekinian.
Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan
produk Cassete Tapenya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi
akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Yang juga cukup unik bahwa
ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai
diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan).

7. BUDAYA BACA


Jangan kaget kalau anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta
listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa
sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak
yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak penerbit yang
mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum
sekolah baik SD, SMP maupun SMA. Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb
disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin
tinggi. Saya pernah membahas masalah komik pendidikan di blog ini.
Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses
penerjemahan buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dsb).
Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada
tahun 1684, seiring dibangunnya institut penerjemahan dan terus
berkembang sampai jaman modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang
sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan.

8. KERJASAMA TIM/KELOMPOK


Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu
bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya
ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut. Fenomena ini tidak hanya di
dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga seperti itu,
mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja
dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada
anekdot bahwa “1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang
professor Amerika, hanya 10 orang professor Amerika tidak akan bisa
mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok”. Musyawarah
mufakat atau sering disebut dengan “rin-gi” adalah ritual dalam
kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam “rin-gi”.

9. MANDIRI


Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Irsyad, anak saya yang
paling gede sempat merasakan masuk TK (Yochien) di Jepang. Dia harus
membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang),
sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang
menggantung di lehernya. Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa
perlengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya
sendiri. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak
meminta biaya kepada orang tua. Teman-temen seangkatan saya dulu di
Saitama University mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan
kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka “meminjam” uang
ke orang tua yang itu nanti mereka kembalikan di bulan berikutnya.

10. JAGA TRADISI


Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang
kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah
untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini. Budaya minta
maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari anda naik
sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki , maka jangan kaget kalau
yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan. Sampai saat ini orang
Jepang relatif menghindari berkata “tidak” untuk apabila mendapat
tawaran dari orang lain. Jadi kita harus hati-hati dalam pergaulan
dengan orang Jepang karena “hai” belum tentu “ya” bagi orang Jepang
Pertanian merupakan tradisi leluhur dan aset penting di Jepang.
Persaingan keras karena masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah,
tidak menyurutkan langkah pemerintah Jepang untuk melindungi para
petaninya. Kabarnya tanah yang dijadikan lahan pertanian mendapatkan
pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa insentif lain untuk
orang-orang yang masih bertahan di dunia pertanian. Pertanian Jepang
merupakan salah satu yang tertinggi didunia. (kaskus.us)


lalu bagaimana dengan Indonesia???

-------------------------------------------------

ENGLISH VERTION

------------------------------------------------

1. Work Hard

It
is the secret that the Japanese nation is hardwork. The average
employee work hours in Japan is 2450 hours / year, is very high compared
with the United States (1957 hours / year), UK (1911 hours / year),
Germany (1870 hours / year), and France (1680 hours / year) . An
employee in Japan can produce a car in 9 days, while officials in other
countries need 47 days to make the car worth the same. A worker can be
said Japan can do the work usually done by 5-6 people. Home quickly is
something that can be said "quite disgraceful" in Japan, and shows that
the employees included "not required" by the company.

2. Shame

Shame
is a cultural and ancestral heredity nation of Japan. Harakiri (suicide
with a knife thrust to the stomach) to the ritual since the era of
samurai, that is when they lose and fight. Log in to the modern world,
little phenomenon changed to "stand down" for officials (ministry,
politicians, etc.) involved in the problem of corruption or failed to
perform its duty feel. Negative effect is probably the children of
primary school, junior high school who sometimes suicide, because the
value is ugly or does not increase the class. Also because of shame, the
Japanese prefer to choose a detour rather than the driver behind the
cut line in the middle of the road. They were ashamed of their
environment when they violate the rules or norms which have become a
common agreement.

3. Saving

Japanese people have the
spirit in daily life sparingly. Anti-consumerism attitude this seem
excessive in different areas of Japanese life. Many people shopping in
the supermarket at around 19:30 hours. A careful critical, in fact it
has become a regular on the Japanese supermarket that will be cut to
half price at the time about a half hour before closing. Supermarkets
such as that known in Japan average closed at 20:00.

4. Loyalty

Loyalty
system to make a career in a company is run and the neat. With a
slightly different system in the United States and Europe, is very rare
Japanese who moved jobs. They usually stay on one or two companies until
retirement. This may be the implications of Industry in Japan that most
would only accept fresh graduate, who then train their students and themselves
according to the company's core business.

5. Innovation

Japanese
inventor is not the nation, but the Japanese have a surplus in the
process and findings and spread in the form of a demand by the public.
Interesting to read the story of Akio Morita Sony developed the
legendary Walkman. Tape not found Cassete by Sony, a company owned by
Phillip Electronics patent. But who has developed a portable and
bundling model as a product during the boom years is tens of Akio
Morita, founder and CEO of Sony at that time. Until 1995, there were
more than 300 walkman model of birth and the amount of total production
reached 150 million products. Assembly techniques are also four-wheeled
vehicles are not created Japanese, patent owned by the United States.
But Japan was able to develop with vehicle assembly industry inovation
that is faster and cheaper.

6. Abstinence surrender

History
proves that the Japanese nation has resistance and never surrender
country. Tens of years under the Tokugawa empire close all access to
other countries, Japan is very behind in technology. When the Meiji
restoration (Meiji ishin) came, the Japanese quickly adapt and become a
fast-learner. Poverty of natural resources also does not make Japan
surrender. Not only importer petroleum, coal, wood and seeds of iron,
even 85% of Japan's energy comes from other countries, including
Indonesia. Indonesia is reported that the supply of oil, then 30% of
Japan will run into darkness. Sequence disaster occurred in 1945,
starting from the atomic bomb on Hiroshima and Nagasaki, lose the war,
followed by Japan, and including with the big earthquake in Tokyo. In
fact Japan is not exhausted. In the next few years Japan has been
successfully developing the automotive industry and even fast train
(shinkansen). May be quite startling how Konosuke Matsushita and the
business nearly destroyed from electronic equipment business in 1945
are still able to crawl, starting from zero so that the industry to
build a kingdom in the era of businessn in this time. Akio Morita also
initially laughable when people offer a product that pretty Cassete Tape
to various other countries. But eventually be legendwith his Sony
Walkman. Which is also quite unique that the science and theory in which
people must learn from failure is formulated in Japan began with the
name shippaigaku (science of failure).

7. Reading culture

Do
not be surprised if you come to Japan and into densha (electric train),
most of the passengers both children and adults are reading books or
newspapers. Do not care to sit or stand, many who have used the time to
read in densha. Many publishers began to create a manga (image comic)
for the materials the school curriculum in both elementary, junior high
and high school. Subject History, Biology, English, etc. are presented
with interesting interests that make people see the higher. Read
Japanese culture is also supported by the speed in the process of
translation of foreign books (English, French, German, etc.). Perhaps
say legend translation foreign books have been commenced in the year
1684, as built institute translating and growing up to modern times.
Usually translated Japanese books are available in a few weeks since
foreign books published.

8. Cooperation Group

Culture in
Japan do not accommodate individualistic works. Including claims of
employment, usually intended for a team or group. This phenomenon not
only in the world of work, the condition of the campus with a research
lab is also such a task subjects are also usually in the form of the
group. Working in groups may be one of the biggest strength of the
Japanese. There is anekdot that "1 the Japanese professor will lose one
professor with the United States, only 10 United States professors who
will not be able to overcome the 10 people who collect Japanese
professor." Consensus or agreement is often called the "rin-gi" is a
ritual in the group. Strategic decisions must be discussed in the
"rin-gi".

10. Keep Tradition & Respect Parents

Technology
and economic development, Japan does not make the nation lose the
tradition and culture. Culture of women who have been married for not
working and there is still alive to this day.

Until now the
Japanese are relatively avoid saying "no" for when people get a bid from
another. So we must be careful in association with the Japanese people
as "haik" not necessarily "yes" for the Japanese tradition is the
ancestor of Agriculture and important assets in Japan. Competition
because of the entrance of Thailand and the United States cheaper, not
menyurutkan steps the Japanese government to protect the farmer. It is
reported that the land be agricultural land to get a significant tax
reduction, including some incentives for those who still survive in the
world of agriculture. Japanese agriculture is one of the highest in the
world.

10.
Independent

Since early age children are trained to
self. independent since they are trained pre school (yochien). they
should bring 3 large bags containing clothes change, Bento (lunch pack),
replace the shoes, books, towels and a bottle of water that hang on his
neck. Yochien in every child be trained to bring their own equipment,
and is responsible for his own goods. Release of high school and enter
college almost did not ask most of the cost to parents. students rely on
part time work to pay for school and everyday life. Even if the money
runs out, they "borrow" the money to the parents that they will return
in the next month.




http://kyosamanotes.blogspot.com/2009/08/10-keys-of-japanese-success.html

No comments:

 

Blogger news

    follow me on Twitter

    Blogroll

    About

    Bookmark and Share