Wednesday, 20 April 2011

Mengenal Hadits-Hadits Dhoif !


Melengkapi khazanah keilmuan kita tentang hadits-hadits yang lemah tampaknya sangat dibutuhkan di zaman ini. Tanpa tahu derajat sebuah hadits, kita akan sembarangan dalam mengambil segala hal yang disandarkan kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, padahal beliau tidak pernah mengatakan, mengerjakan atau membenarkan hal tersebut. Parahnya di masyarakat kita begitu banyak hadits lemah bahkan palsu yang beredar.

Beberapa hadits mungkin akrab di telinga kita, namun setelah diberi penilaian oleh ulama hadits, ternyata bukan hadits yang sah dari nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Fenomena ini tentu akan semakin menguak kesadaran kita untuk lebih mengetahui mana hadits yang sah adanya, dan mana pula yang tidak sah yang tak laik kita ambil.Penjagaan Allah terhadap agamanya sangatlah nyata. Dibuktikan dengan dijaganya dua sumber hukum Islam yaitu Al Quran dan Al Hadits. Berkaitan dengan hadits Nabawy, di setiap zaman dan waktu senantiasa tegak para ulama ahli hadits yang membongkar berbagai perkataan yang disandarkan kepada Nabi, namun sebenarnya bukan. Buahnya adalah, umat islam dengan mudah menemukan hadits yang sah, untuk dipraktikan dalam dataran kenyataan. Dan meninggalkan hadits-hadits yang lemah atau bahkan palsu dari praktik keseharian. diantara hadits yang mungkin telah akrab dengan kita, diantaranya:
“Nama-nama yang paling dicintai oleh Allah adalah apa-apa yang disembah (dengan menggunakan kata ‘abdul) dan apa-apa yang dipuji (seperti Ahmad, Muhammad dll)”
hadits tidak ada asalnya (Kasyful khofaa` 1/390/51)

“Perbedaan pada umatku adalah rahmat”
hadits tidak ada asalnya (As Silsilah Adh Dhoifah 1/78/57)

“Para sahabatku seperti bintang-bintang dengan siapa saja kamu mengikuti mereka maka berarti kamu telah mendapatkan petunjuk”
hadits maudhu’/palsu (As-Silsilah Adh-Dhoifah 1/78/58)

“Jibril telah mewasiatkan kepadaku (untuk berbuat baik) kepada tetangga sampai empat puluh rumah, sepuluh dari sini, sepuluh dari sini, sepuluh dari sini, sepuluh dari sini”
Hadits Dhoif/lemah (As-Silsilah Adh-dhoifah 1/294/274)

“Tidak ada sholat bagi tetangga masjid kecuali di masjid”
hadits Dhoif/lemah (As-Silsilah Adh-Dhoifah 1/216/183)

“Takbir itu dengan tegas”
tidak ada asalnya (As-Silsilah Adh-dhoifah 1/101/71)

“Bertawasullah dengan kehormatanku karena kehormatanku di sisi Allah sangat besar”
Tidak ada asalnya (As-Silsilah Adh-dhoifah 1/30/22)

“Cinta tanah air termasuk dari Iman”
hadits maudhu’/lemah (As-silsilah Adh-dhoifah 1/55/36)

“Barang siapa menikah sebelum berhaji maka sungguh ia telah memulai dengan kemaksiatan”
hadits Maudhu /palsu (As-Silsilah Adh-dhoifah 1/250/222)

" Beramallah untuk duniamu seolah-olah Engkau akan hidup selamanya dan beramallah untuk akhiratmu seolah-olah Engkau akan mati besok."
Hadits dhoif ( Silsilah hadits dhoif I/8)

" Barangsiapa mengenal dirinya, berarti ia telah mengenal Tuhannya."
Hadits dhoif (Silsilah hadits dhoif I/ 66)

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-AlBani

Semoga tulisan ini Berguna,

LAUTSAMUDRA : Bukan bermaksud CopyPaste namun artikel ini masuk ke Draft Blog Pebulis Sudah lama sekali dan sumbernya Penulis Lupa. Kepada penulis asli mohon dibukakan pintu maaf.

No comments:

 

Blogger news

    follow me on Twitter

    Blogroll

    About

    Bookmark and Share